Thursday, August 12, 2021

Review Film I Can Speak (2017)



Tak melulu membahas drama atau film terbaru, mari kita membahas film lama yang satu ini. Film ini sudah cukup lama rilis, yaitu pada 21 September 2017. 


Kalau teman-teman melihat poster film ini, tentu dapat menebak siapa pemeran utama dalam film ini. Film ini dibintangi oleh artis senior Na Moon-He dan aktor tampan Lee Je-Hoon. Dua aktris/aktor yang cukup terkenal di Korea Selatan. Untuk penggemar Kdrama tentu sudah sering melihat Halmoni Na Moon-He di berbagai drama Korea. Drama terbaru beliau yaitu drama 'Navillera'. Banyak juga yang mengenal Halmoni ini berkat film 'Miss Granny'. Untuk Lee Je-Hoon semakin dikenal berkat aktingnya di drama terbarunya 'Taxi Driver' dan 'Move to Heaven' (Sebelumnya juga sudah terkenal sih).


Beberapa hari setelah perilisan, film ini juga menduduki puncak Box Office Korea Selatan dengan jumlah penonton yang mencapai 3,2 juta penonton (berdasarkan Korean Film Council (KOFIC)/ koreanfilm.or.kr). Kalau melihat dari data ini, tentu kita dapat melihat bahwa film ini lumayan populer di Korea Selatan pada saat itu. Film ini juga menerima sejumlah penghargaan untuk berbagai kategori. 


Namun dengan segala penghargaan yang telah diperoleh, masih banyak yang bertanya, "Apakah pemeran utama dalam film ini (dimana yang satu sudah cukup tua, dan yang lainnya masih sangat muda), benar-benar menciptakan chemistry yang sangat bagus? "



Profile:

  • Title : I Can Speak
  • Director : Kim Hyun-Seok 
  • Writer : Yoo Seung-Hee, and Kim Hyun-Seok
  • Producer : Lee Ha-Young and Kang Ji-Yeon
  • Release date : September 21, 2017
  • Runtime : 119 min
  • Genre : Drama, Family, Comedy
  • Country : South Korea
  • Main cast : 
    • Na Moon-Hee : Na Ok-Boon
    • Lee Je-Hoon : Park Min-Jae
  • Rate (IMDb) : 7.5/10


Sinopsis

(KLIK DISINI)


Source pic : Asianwiki/I_Can_Speak



Review


'Film yang menarik'
'Kisah yang hangat, dan menyentuh'

Itulah kesan saya setelah menonton film ini. Awalnya saya tertarik menonton film ini karena saya tertarik dengan akting Lee Je-Hoon dalam berbahasa inggris. Saya juga tidak berekspektasi terlalu tinggi ketika akan menonton film ini. Dengan pemeran utama yang memiliki jarak usia yang cukup jauh dan memiliki genre utama 'Drama', sebenarnya awalnya tidak terlalu menarik minat saya. Namun, setelah menontonnya saya benar-benar menyukai film ini. 

Bagi yang belum tahu, film ini dikisahkan dari peristiwa nyata di masa lalu. Film ini mengisahkan tentang seorang korban yang memutuskan untuk berbicara dan mencari pertanggungjawaban dari pemerintah Jepang atas penderitaannya beserta banyak wanita lainnya yang dijadikan 'comfort women/sex slavery' oleh pegawai pemerintah Jepang pada saat perang dunia II. Dalam film ini juga diceritakan bahwa Halmoni Ok-Boon beserta temannya dijadikan 'comfort women' ketika mereka masih berusia 13 tahun, dalam artian bahwa mereka masih anak dibawah umur pada saat itu. 

Teman-teman yang menonton film ini pasti akan turut sedih atas penderitaan yang ia alami dan bangga atas semangat juangnya yang begitu membara untuk memperjuangkan keadilan di usia tuanya. Teman-teman juga dapat melihat kliping-kliping yang berhubungan dengan kasus ini di dunia nyata di penghujung video filmnya sesaat setelah filmnya usai. Untuk kasus ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Korea Selatan, setahu saya ini juga dialami oleh negara-negara bekas jajahan Jepang lainnya, termasuk Indonesia (Untuk informasi lengkapnya, mungkin teman-teman bisa cari referensi lain).

Banyak nilai moral yang dapat teman-teman peroleh setelah menonton film ini, mulai dari arti kekeluargaan, kesetiaan dalam persahabatan, profesionalisme kerja yang baik, keberanian yang tinggi, dan tetap bersemangat untuk memperoleh keadilan tanpa dihalangi oleh faktor umur. 

Saya pribadi sangat salut dengan kisah Halmoni Ok-Boon (kalau nama asli di kisah nyatanya saya tidak tahu) yang begitu berani berbicara tentang ketidakadilan yang ia terima. Meskipun dalam film ini Halmoni Ok-Boon dan korban lainnya tetap tidak menerima pengakuan dan pertanggungjawaban, tetapi tetap salut dengan perjuangan dan keberanian mereka untuk 'speak up'. 


Secara Teknis...

Untuk kualitas akting, tentu sangat bagus. Plot cerita beralur maju ini diceritakan dengan lumayan intens. Sinematografinya pun sudah sesuai dan lumayan bagus. Tone warnanya terkadang berubah lebih gelap ketika scene sedih atau sedang mengingat masa lalu. 

Saya awalnya mengira film ini hanya akan menceritakan kisah klasik seorang anak muda yang tanpa sengaja memasuki hidup seorang nenek tua yang sebatang kara, hingga akhirnya mereka memiliki hubungan seperti keluarga sungguhan layaknya film/drama dengan genre 'drama' pada umumnya. Namun, ternyata film ini di luar ekspektasi saya. 

Dengan emosi yang begitu mendalam, kemudian memuncak, ketika pengalaman hidup Na Ok-Boon yang merupakan inti masalah dari film ini diceritakan dengan begitu legit. Aspek sejarah yang ditambahkan pun semakin menambah aspek emosional dari film ini. Dapat saya katakan bahwa kedua pemeran utama film ini benar-benar berhasil menciptakan chemistry dan emosi yang sangat baik.

Salah satu scene yang sangat saya sukai dari film ini adalah scene ketika Park Min-Jae (Lee Je-Hoon) berbicara bahasa inggris. Meskipun tidak banyak scene yang menunjukkan ia berbicara dengan bahasa inggris, namun cukup membuktikan bahwa ia memiliki skill berbahasa inggris yang cukup baik.

Setelah melihat sinopsis dan review film ini, teman-teman bisa menebak dong ya alasan mengapa judul film ini "I Can Speak"😊. Saya pribadi merekomendasi film ini bagi teman-teman yang menyukai film dengan genre family drama dan comedy, karena film ini benar-benar bagus. Untuk yang belum menontonnya dan ingin menontonnya, dapat streaming melalui platform VIU ya. 

See you next review Chingu-deul 👋

Load comments